Friday, 10 July 2020

CARA MENGATASI KENDALA DALAM PEMBELAJARAN PADA MASA PAMDEMI COVID 19

Dinas Pendidikan Kota Bengkulu menyiapkan 3 bentuk pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru diantaranya:

1. Belajar melalui Media Televisi
2. Belajar dalam Jaringan (Daring) atau Luar Jaringan (Luring).
3. Studi Club

Masing masing model pembelajaran memiliki kendala, tinggal bagaimana seorang guru mensiasatinya. 

1. Kendala belajar melalui media televisi
Televisi yang digunakan adalah RBTV, tidak semua siswa kita memiliki channel RBTV pada channelnya. Lho kok bisa?? bisa saja kemungkinan jarak yang cukup jauh menyebabkan siaran televise tidak dapat dijangkau. Kendala berikutnya adalah keterbatasan materi yang disampaikan tidak semua materi dapat disampaikan melalui RBTV, karena itu seorang guru yang mendapat tugas memberikan materi harus dapat memilih materi dan kompetensi dasar yang esensial. 

2. Kendala Belajar Daring atau Luring
Belajar dalam jaringan memerlukan internet sedangkan luar jaringan tidak memerlukan internet.
Belajar daring dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa aplikasi diantaranya zoom, google meet, webex , google classroom, Edmodo, quiper, WhatsApp, facebook dll. Belajar diluar jaringan dapat menggunakan Lembar kerja, buku cetak ataupun modul yang sudah disiapkan guru.
Kendala belajar dalam jaringan adalah tidak semua siswa memiliki akses internet. 
cara mengatasinya adalah tentu saja dengan menerapkan belajar luring ya...


3.Kendala Studi Club
Studi Club adalah pembelajaran dengan cara berkelompok dengan mematuhi protocol covid 19. Kelompok tersebut dibentuk berdasarkan dmisili terdekat. Terdiri dari 6-8 orang siswa. Siswa diminta datang atau guru mendatangi kelompok belajar siswa untuk memfasilitasi masing-masing kelompok. 
Studi club terkendala dengan susahnya menembus ijin dari gugus tugas protokol Covid 19. 
hal ini yang bisa membantu tentulah pemerintah kota setempat bagaimana agar sekolah mendapat ijin dari gugus tugas protokol Covid 19. 

Skenario Pembelajaran dapat di unduh di bawah ini:

Thursday, 9 July 2020

PERSIAPAN PEMBELAJARAN MENGHADAPI NEW NORMAL DI KOTA BENGKULU

Setelah selama kurang lebih 4 bulan, mulai pertengahan Maret 2020 sampai 26 Juni 2020, siswa melakukan BDR (Belajar Dari Rumah), pada masa tahun pelajaran baru 2020/2021 hal ini akan di perpanjang, siswa akan tetap belajar dari rumah selama pandemic covid-19. Berbagai upaya dilakukan oleh dinas Pendidikan untuk mengupayakan system belajar di rumah ini. Di antaranya mengupayakan webinar tentang cara cara pembelajaran sebagai alternative yang dapat dilakukan. Kota Bengkulu menyiapkan tiga pilihan pembelajaran yang skenarionya dapat di unduh berikut ini:








Saturday, 22 July 2017

TAHAPAN PEMEROLEHAN BAHASA ANAK MUDOL UKG

TAHAPAN PEMEROLEHAN BAHASA ANAK

1. Tahap satu kata atau Holofrastis 
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran 
yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda
benda yang dijumpai  sehari-hari. Pada usia ini, sang anak sudah mengerti bahwa 
bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata yang 
pertama. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata, satu frase, atau 
kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu 
konsep yang lengkap. Misalnya “mam” (Saya minta makan); “pa” (Saya mau papa 
ada di sini).  

2. Tahap dua kata, Satu frase  
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18-20 bulan. Ujaran-ujaran yang 
terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Kalau pada 
tahap holofratis ujaran yang diucapkan si anak belum tentu dapat ditentukan 
makna, pada tahap dua kata ini, ujaran si anak harus ditafsirkan sesuai dengan 
konteksnya. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berpikir secara “subjek + 
predikat” meskipun hubungan-hubungan seperti infleksi, kata ganti orang dan 
jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat” dapat 
terdiri atas kata benda + kata benda, seperti  “Difa mainan”  yang berarti  “Difa  
sedang bermain dengan mainan”. 

3. Ujaran Telegrafis 
Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata ganda (multiple
wordutterences) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu 
membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. 
Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai beratus-ratus kata dan cara 
pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa. 

 Pemerolehan dalam bidang fonologi 
Pada umur sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip 
dengan bunyi konsonan atau vokal. Bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan 
bentuknya karena memang terdengar dengan jelas. Proses bunyi-bunyi seperti ini 
dinamakan cooing, yang telah diterjemahkan menjadi dekutan (Dardjowidjojo 2000: 
63). Anak mendekutkan bermacam-macam bunyi yang belum jelas identitasnya. 

Pada sekitar umur 6 bulan, anak mulai mencampur konsonan dengan vokal sehingga 
membentuk apa yang dalam bahasa Inggris dinamakan babbling, yang telah 
diterjemahkan menjadi celotehan (Darmowidjojo: 2000: 63). Celotehan dimulai 
dengan konsonan dan diikuti oleh sebuah vokal. Konsonan yang keluar pertama 
adalah konsonan bilabial hambat dan bilabial nasal. Vokalnya adalah /a/ dengan 
demikian, strukturnya adalah KV. Sehingga muncullah struktur seperti berikut:   KV 
KV KV……papapa  mamama ….. Konsonan dan vokalnya secara gradual berubah 
sehingga muncullah kata-kata seperti dadi, dida, dan sebagainya. 

Pemerolehan dalam bidang Sintaksis 
Dalam bidang sintaksis, anak memulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata atau 
bagian kata. Kata ini, bagi anak sebenarnya adalah kalimat penuh, tetapi karena dia 
belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata dari 
seluruh kalimat itu. Yang menjadi pertanyaan adalah kata mana yang dia pilih? 
Seandainya anak itu bernama Dodi dan yang ingin ia sampaikan adalah Dodi mau 
bobok, dia akan memilih di (untuk Dodi), mau (untuk mau), ataukah bok (untuk 
bobok)? Kita pasti akan menerka bahwa dia akan memilih bok.  

Pemerolehan dalam bidang Semantik 
Dari segi sintaksis, USK (Ujaran Satu Kata) sangatlah sederhana karena memang 
hanya terdiri dari satu kata saja, bahkan untuk bahasa seperti bahasa Indonesia hanya 
sebagian saja dari kata itu. Namun dari segi semantiknya, USK adalah kompleks 
karena satu kata ini  bisa memiliki lebih dari satu makna. Anak yang mengatakan /bil/ 
untuk mobil bisa bermaksud mengatakan: Ma, itu mobil. Aku mau ke mobil. Papa ada 
di mobil, dsb.nya. 

Senada dengan uraian Dardjowidjojo di atas Zuchdi (2001) menjelaskan tahap-tahap 
pemeroleh bahasa anak sebagai berikut.  
1. Mendekut (mengeluarkan bunyi vokal) 
Bayi pada umumnya sanggup memroduksi bunyi dari dirinya sendiri. Bunyi yang 
paling dominan dalam komunikasi bayi adalam melalui tangisan. Namun, 
berdasarkan kemahiran berbahasanya mendekut (cooing) adalah ekspresi oral 
bayi mengeksplorasi pemroduksian bunyi vokal. 
2. Meraban/Mengoceh (mengandung konsonan dan bunyi vokal) 
Bunyi-bunyian yang dihasilkan anak pada tahap ini adalah produksi yang dipilih 
oleh bayi terkait fonem-fonem yang dipilih baik bunyi vokal maupun konsonan 
yang merupakan ciri asal bahasa bayi. Meraban (babbling) ini berbeda pada 
setiap bayi, sedangkan mendekut (cooing) seluruh bayi sama.  
3. Ucapan Satu Kata 
Yang dimaksud ucapan dalam tahap ini terbatas pada bunyi vokal dan konsonan 
yang digunakan (Ingram, 1999). Bayi menggunakan suku kata ini, holofrastis, 
untuk menyampaikan intense, keinginan, atau tuntutan. Biasanya kata-kata yang 
diungkapkan adalah kata benda konkret yang dikenalnya seperti: mobil, buku, 
bola, dll atau bisa juga keinginan seperti papa, mama, kue, bobo, dll.  Pada usia 18 
bulan, anak-anak biasanya memiliki tiga sampai 100 kata. Namun, kosakata yang 
dimiliki terkadang tidak mencukupi untuk mengungkapkan keinginannya, 
akibatnya mereka sering melakukan kesalahan.  
4. Ucapan Dua Kata dan Ujaran Telegrafik Secara  bertahap antara usia 1,5 sampai dengan 2,5 tahun anak mulai 
mengombinasikan kata-kata tunggal untuk menghasilkan ucapan dua kata. 
Komunikasi ini tampaknya lebih mirip dengan telegram daripada percakapan. 
Kata depan, kata sambung, dan fungsi morfem lainnya yang biasanya 
ditinggalkan. Oleh karena itu, para ahli bahasa menyebutkan ucapan-ucapan awal 
ini mirip di dalam telegram.  
 5. Struktur Kalimat Dasar  
Pada usia dua tahun kata yang dimiliki anak berkembang dengan cepat. Pada 
umur tersebut anak sudah memiliki sekitar 300 s.d. 1000 kata dan menjelang 
umur tiga tahun sampai dengan 4 tahun kemahiran kosakata anak akan terus 
bertambah hingga anak mencapai fondasi dan struktur bahasa orang dewasa. 
Selanjutnya pada usia lima tahun, kebanyakan anak juga bisa mengerti dan 
memroduksi kalimat yang cukup kompleks. Pada usia sepuluh tahun, secara 
fundamental bahasa anak sudah sama seperti orang dewasa. 

PERBEDAAN PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA

PERBEDAAN PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA

Istilah pemerolehan dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama, yaitu satu 
proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Istilah 
pembelajaran dipakai dalam proses belajar bahasa, umumnya bahasa yang dipakai 
yang dipelajari secara formal di sekolah atau bahasa asing, yang dialami oleh seorang 
anak atau orang dewasa setelah ia menguasai bahasa pertama. Bagi sebagian besar 
anak di Indonesia, bahasa Indonesia bukanlah bahasa pertama, meraka telah 
menguasai bahasa pertama mereka, yaitu bahasa daerah. Oleh karena itu, dalam 
kasus seperti ini bahasa Indonesia menjadi bahasa asing bagi sebagian besar mereka. 

Untuk memahami struktur dan aturan-aturan di dalam bahasa asing, ada dua cara 
yang dapat dipergunakan. Yang pertama adalah meminta seorang menerangkannya; 
yang kedua adalah menemukannya dengan cara sendiri. Cara yang pertama disebut 
eksplikasi (explication), sedangkan cara yang kedua disebut induksi (induction). 

Eksplikasi adalah penjelasan aturan dan struktur bahasa asing dalam bahasa kita 
sendiri. Proses ini jarang sekali dipakai ketika seorang anak belajar bahasa pertama.  

Induksi adalah cara mempelajari struktur dan aturan bahasa asing dengan 
mengulang-ulang kata, frasa, atau kalimat dalam situasi yang relevan sehingga 
diperoleh pemahaman yang tepat. Dengan cara ini, seorang pemelajar bahasa asing 
akan menganalisis dan menemukan generalisasi atau aturan dalam struktur bahasa 
yang dipelajarinya. Dalam situasi berikut, seorang pembelajar bahasa Indonesia akan 
memahami aturan membuat kalimat negatif dalam bahasa Indonesia. 

Di dalam pembelajaran bahasa ingatan juga penting. Memori atau ingatan berperan 
dalam proses mengingat struktur dan aturan dalam bahasa asing. Orang dewasa 
menggunakan strategi untuk mengingat dengan cara “menghafal di luar kepala” 
(rote).  

Hal lain yang juga berkaitan dengan faktor psikologis adalah keterampilan motorik. 
Pada masa pertumbuhan, otak sebagai pengendali alat ucap anak masih sangat 
“lentur”. Hal itu, memudahkan anak untuk menirukan pengucapan kata-kata asing 
karena pada masa ini ia masih melatih berbagai keterampilan motoriknya, termasuk 
di antaranya adalah alat ucapnya.  

Namun,   hal-hal di atas juga harus didukung oleh faktor lain yang tak kalah penting 
yaitu faktor sosial. Faktor sosial ini masih dibedakan menjadi dua hal. Yang pertama 
adalah situasi natural. Yang kedua adalah situasi di dalam kelas. Seorang anak lebih 
mudah belajar bahasa asing dalam situasi yang sangat alami misalnya dalam situasi 
bermain. Bagi anak-anak beradaptasi dengan lingkungan baru akan lebih mudah jika 
dibandingkan dengan orang dewasa.  

Di dalam proses pembelajaran bahasa dikenal pula istilah Hipotesis Umur Kritis 
(Critical Age Hypothesis). Hipotesis ini mempertimbangkan usia sebagai faktor untuk 
mencapai kemampuan berbahasa. Menurut Lenneberg (1967), usia 2 sampai dengan 
12 tahun merupakan usia yang sangat ideal untuk mencapai kemampuan berbahasa 
seperti penutur asli, sedangkan menurut Kresen (1972)  usia yang ideal untuk belajar 
bahasa adalah di bawah lima tahun.  

Jadi, benarkah anak-anak lebih unggul daripada orang dewasa dalam proses 
pembelajaran bahasa asing? Jawabannya bergantung pada faktor mana yang paling 
berpengaruh dan dalam situasi apa mereka belajar.   (22 Juli 2017)

Thursday, 19 July 2012

KISI-KISI UKG ONLINE SD

Bagi rekan-rekan guru  SD yang butuh kisi-kisi Uji Kompetensi Guru online silahkan klik di sini