Saturday, 22 July 2017

PERBEDAAN PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA

PERBEDAAN PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA

Istilah pemerolehan dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama, yaitu satu 
proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Istilah 
pembelajaran dipakai dalam proses belajar bahasa, umumnya bahasa yang dipakai 
yang dipelajari secara formal di sekolah atau bahasa asing, yang dialami oleh seorang 
anak atau orang dewasa setelah ia menguasai bahasa pertama. Bagi sebagian besar 
anak di Indonesia, bahasa Indonesia bukanlah bahasa pertama, meraka telah 
menguasai bahasa pertama mereka, yaitu bahasa daerah. Oleh karena itu, dalam 
kasus seperti ini bahasa Indonesia menjadi bahasa asing bagi sebagian besar mereka. 

Untuk memahami struktur dan aturan-aturan di dalam bahasa asing, ada dua cara 
yang dapat dipergunakan. Yang pertama adalah meminta seorang menerangkannya; 
yang kedua adalah menemukannya dengan cara sendiri. Cara yang pertama disebut 
eksplikasi (explication), sedangkan cara yang kedua disebut induksi (induction). 

Eksplikasi adalah penjelasan aturan dan struktur bahasa asing dalam bahasa kita 
sendiri. Proses ini jarang sekali dipakai ketika seorang anak belajar bahasa pertama.  

Induksi adalah cara mempelajari struktur dan aturan bahasa asing dengan 
mengulang-ulang kata, frasa, atau kalimat dalam situasi yang relevan sehingga 
diperoleh pemahaman yang tepat. Dengan cara ini, seorang pemelajar bahasa asing 
akan menganalisis dan menemukan generalisasi atau aturan dalam struktur bahasa 
yang dipelajarinya. Dalam situasi berikut, seorang pembelajar bahasa Indonesia akan 
memahami aturan membuat kalimat negatif dalam bahasa Indonesia. 

Di dalam pembelajaran bahasa ingatan juga penting. Memori atau ingatan berperan 
dalam proses mengingat struktur dan aturan dalam bahasa asing. Orang dewasa 
menggunakan strategi untuk mengingat dengan cara “menghafal di luar kepala” 
(rote).  

Hal lain yang juga berkaitan dengan faktor psikologis adalah keterampilan motorik. 
Pada masa pertumbuhan, otak sebagai pengendali alat ucap anak masih sangat 
“lentur”. Hal itu, memudahkan anak untuk menirukan pengucapan kata-kata asing 
karena pada masa ini ia masih melatih berbagai keterampilan motoriknya, termasuk 
di antaranya adalah alat ucapnya.  

Namun,   hal-hal di atas juga harus didukung oleh faktor lain yang tak kalah penting 
yaitu faktor sosial. Faktor sosial ini masih dibedakan menjadi dua hal. Yang pertama 
adalah situasi natural. Yang kedua adalah situasi di dalam kelas. Seorang anak lebih 
mudah belajar bahasa asing dalam situasi yang sangat alami misalnya dalam situasi 
bermain. Bagi anak-anak beradaptasi dengan lingkungan baru akan lebih mudah jika 
dibandingkan dengan orang dewasa.  

Di dalam proses pembelajaran bahasa dikenal pula istilah Hipotesis Umur Kritis 
(Critical Age Hypothesis). Hipotesis ini mempertimbangkan usia sebagai faktor untuk 
mencapai kemampuan berbahasa. Menurut Lenneberg (1967), usia 2 sampai dengan 
12 tahun merupakan usia yang sangat ideal untuk mencapai kemampuan berbahasa 
seperti penutur asli, sedangkan menurut Kresen (1972)  usia yang ideal untuk belajar 
bahasa adalah di bawah lima tahun.  

Jadi, benarkah anak-anak lebih unggul daripada orang dewasa dalam proses 
pembelajaran bahasa asing? Jawabannya bergantung pada faktor mana yang paling 
berpengaruh dan dalam situasi apa mereka belajar.   (22 Juli 2017)

No comments:

Post a Comment