PERBEDAAN PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA
Istilah pemerolehan dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama, yaitu satu
proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Istilah
pembelajaran dipakai dalam proses belajar bahasa, umumnya bahasa yang dipakai
yang dipelajari secara formal di sekolah atau bahasa asing, yang dialami oleh seorang
anak atau orang dewasa setelah ia menguasai bahasa pertama. Bagi sebagian besar
anak di Indonesia, bahasa Indonesia bukanlah bahasa pertama, meraka telah
menguasai bahasa pertama mereka, yaitu bahasa daerah. Oleh karena itu, dalam
kasus seperti ini bahasa Indonesia menjadi bahasa asing bagi sebagian besar mereka.
Untuk memahami struktur dan aturan-aturan di dalam bahasa asing, ada dua cara
yang dapat dipergunakan. Yang pertama adalah meminta seorang menerangkannya;
yang kedua adalah menemukannya dengan cara sendiri. Cara yang pertama disebut
eksplikasi (explication), sedangkan cara yang kedua disebut induksi (induction).
Eksplikasi adalah penjelasan aturan dan struktur bahasa asing dalam bahasa kita
sendiri. Proses ini jarang sekali dipakai ketika seorang anak belajar bahasa pertama.
Induksi adalah cara mempelajari struktur dan aturan bahasa asing dengan
mengulang-ulang kata, frasa, atau kalimat dalam situasi yang relevan sehingga
diperoleh pemahaman yang tepat. Dengan cara ini, seorang pemelajar bahasa asing
akan menganalisis dan menemukan generalisasi atau aturan dalam struktur bahasa
yang dipelajarinya. Dalam situasi berikut, seorang pembelajar bahasa Indonesia akan
memahami aturan membuat kalimat negatif dalam bahasa Indonesia.
Di dalam pembelajaran bahasa ingatan juga penting. Memori atau ingatan berperan
dalam proses mengingat struktur dan aturan dalam bahasa asing. Orang dewasa
menggunakan strategi untuk mengingat dengan cara “menghafal di luar kepala”
(rote).
Hal lain yang juga berkaitan dengan faktor psikologis adalah keterampilan motorik.
Pada masa pertumbuhan, otak sebagai pengendali alat ucap anak masih sangat
“lentur”. Hal itu, memudahkan anak untuk menirukan pengucapan kata-kata asing
karena pada masa ini ia masih melatih berbagai keterampilan motoriknya, termasuk
di antaranya adalah alat ucapnya.
Namun, hal-hal di atas juga harus didukung oleh faktor lain yang tak kalah penting
yaitu faktor sosial. Faktor sosial ini masih dibedakan menjadi dua hal. Yang pertama
adalah situasi natural. Yang kedua adalah situasi di dalam kelas. Seorang anak lebih
mudah belajar bahasa asing dalam situasi yang sangat alami misalnya dalam situasi
bermain. Bagi anak-anak beradaptasi dengan lingkungan baru akan lebih mudah jika
dibandingkan dengan orang dewasa.
Di dalam proses pembelajaran bahasa dikenal pula istilah Hipotesis Umur Kritis
(Critical Age Hypothesis). Hipotesis ini mempertimbangkan usia sebagai faktor untuk
mencapai kemampuan berbahasa. Menurut Lenneberg (1967), usia 2 sampai dengan
12 tahun merupakan usia yang sangat ideal untuk mencapai kemampuan berbahasa
seperti penutur asli, sedangkan menurut Kresen (1972) usia yang ideal untuk belajar
bahasa adalah di bawah lima tahun.
Jadi, benarkah anak-anak lebih unggul daripada orang dewasa dalam proses
pembelajaran bahasa asing? Jawabannya bergantung pada faktor mana yang paling
berpengaruh dan dalam situasi apa mereka belajar. (22 Juli 2017)
No comments:
Post a Comment